13 Desember 2010

Kamar (calon) Seniman

Good news, readers!

Harunsaurus yang ceria sudah kembali! :D

Well, setidaknya hari ini gw gak lagi galau, jadi gw mau cerita tentang apa yang gw lakuin kemarin.

Kemarin, waktu lagi beresin kamar, gw menyadari bahwa dinding kosan gw berwarna putih... No, wait. Maksud gw, dinding kosan gw sangat menggoda untuk dicorat-coret. Dan jadilah gw mencorat-coretnya pakai... arang. FYI, itu arang gw beli beberapa bulan yang lalu, niatnya mau gw jadiin pengganti charcoal buat gambar, tapi ternyata gak enak, jadilah gw simpen sampe berbulan-bulan. Gw aja baru inget itu arang belum gw buang setelah buka laci.

Eniwei, ini yang gw tulis di dinding kamar gw dengan font guedhe:

"Whatever doesn't kill you will makes you stronger." --Nietzsche.

"Aku mau hidup seribu tahun lagi.: --Chairil Anwar.

"There is no retirement for artist. It's your way of life so there is no end to it." --Bono

"Do, or do not. There is no try." --Yoda.


Those lines are pretty badass, ain't they?

Ah, on second thought, gw mengganti quote-nya Nietzsche, seperti ini:

"Whatever doesn't kill you will makes you stronger stranger." --Nietzsche The Joker.

My, that sounds even more cool.

Terus, pintu kamar gw corat-coret pake oil pastel. Ini fotonya:



Argh, damn my low-res camera! Eniwei, begini tulisannya:

One does not simply walks into...

KAMAR (calon) SENIMAN
fuck yea.

Tulisan di kotak merah itu bacanya:
Beyond this point is a f**king messy room. If you're allergic to that please leave at once. Do not enter without permission. Lightsaber is the coolest weapon ever and vampires don't sparkle. You have been warned.
Terus ada quote di bawahnya:
You shall not pass! --Gandalf The White.
Di deket handle pintu gw tulis: Login. Oh, what a nerd, Harun.

Terus ada 'hit counter' bertuliskan, "You are visitor number... (ditulis dengan torus)". Jumlahnya tentu saja ngasal karena gw gak inget udah ada berapa orang yang pernah mampir ke kamar gw :P

Btw, ada yang ngebuka link yang gw selipin di beberapa kata di atas? Link itu menuju ke situs yang namanya tvtropes.org, situs yang ngebahas, euh... tropes. What the hell is that? Well, you see... tropes itu... ah, baca aja sendiri deh! Yang pasti itu situs yang lucu sekaligus keren. Protip: search your favourite film/manga/anime/video game and see the result. Enjoy your trope :)

Okay, gw mau sarapan dulu, terus ke kampus buat ngerjain tugas. See you in my next postingan!

11 Desember 2010

Kamar oh Kamar

Hello readeeerrrss!!

Apa kabar? Lama gak posting nih, dua postingan terakhir gw serius banget. Belakangan lagi galau nih. Galau gara-gara... banyak hal. Eniwei, gw lagi gak mood nulis yang galau-galau sekarang, jadi let's put that aside.

Well, postingan ini gw tulis jam 2.03. Saat ini gw lagi ngeberesin kamar gw yang superberantakan sama kayak hidup gw. Begitu berantakaannya sampai-sampai gw gak tau harus mulai dari mana buat ngeberesinnya. Disapu dulu? repot. Ngeberesin buku dulu? gw gak punya rak. Ngerapihin lemari dulu? ribet juga. Buang sampah? Gw susah ngebedain mana yang sampah dan mana yang bukan. Fesbukan dulu? ini gw emang sambil fesbukan koq.

...dan akhirnya gw memutuskan buat posting blog dulu.

Oke. Sepertinya gw sudah ngantuk. Kamar baru setengah beres. Baru gw sapu sampah-sampahnya dan gw tumpuk buku-buku di pinggir meja. Di kasur yang lagi gw dudukin sekarang ada gitar, mug, dan PSP. Meh, mau tidur aja ribet bener kudu ngeberesin tempat tidur segala.

Eniwei, sebelum gw semakin ngantuk, mending gw beresin kasur dulu deh. Besok lanjut lagi beberes kamarnya. Hehehe...

Oke, see you in my next postingan, readers!

08 Desember 2010

Ingin

Aku ingin begini, aku ingin begitu

Ingin ini, ingin itu, banyak sekali

Yang tidak tahu potongan lirik lagu itu mungkin tidak tinggal di Indonesia. Potongan lirik dari anime yang, menurut Ibu saya yang orang Jawa, 'kh ayale pol', sebuah sindiran atas imajinasi yang terlalu tinggi. Tapi toh akhirnya imajinasi itu pula yang mengantarkan anaknya kuliah di Institut Top Banget, di Fakultas Senang Rock'n Roll dan Dangdutan.

Tapi tidak, poin saya bukan imajinasi, melainkan kata kerja dalam potingan lirik tersebut: 'ingin'. Menurut KBBI, definisi kata 'ingin' adalah 'hendak; mau; berhasrat'. Kata ini jadi penting dalam kehidupan, bersama dengan kata-kata analogusnya seperti 'impian' atau, yang berkesan jahat, 'tamak'.

Manusia senantiasa merasa ingin. Ingin kaya raya, ingin lulus cum laude, ingin jadi seniman, ingin punya pacar, ingin jadi raja bajak laut, dan lain-lain. Rasa ingin pulalah yang membawa Neil Armstrong ke bulan dan Wright Bersaudara membuat pesawat terbang. Ingin mendorong kita untuk menjadi, ingin mendorong kita untuk memiliki.

Di zaman serba cepat ini, ingin mengalir dengan kecepatan 1024 kBps. Bukan, itu bukan kecepatan yang sebenarnya, hanya saja saya ingin menggambarkan betapa cepatnya rasa ingin itu mengalir, berubah dari satu keingingan menuju keinginan lainnya, seringkali secara simultan, memaksa kita untuk bekerja secara multitasking. Belum tercapai satu keinginan, sudah ingin yang lain. Belum juga lulus, sudah ingin kawin(baca:nikah).

Ingin menggerakkan pasar. Dari pasar tradisional sampai pasar modal. Para kaum kapitalis beranggapan bahwa 'greed is good'. Beralasan, tentu saja, mengingat tanpa keinginan untuk memperkaya diri, tentu perekonomian tidak tumbuh. Ada sebuah artikel di majalah Capitalism Magazine yang berjudul The Virtue of Greed. Walter William, penulis artikel itu mengatakan, "It is greed, not compassion, that get things done." Sepertinya kamu benar, Adam Smith.

Tapi apakah ingin membuat kita bahagia? Apakah dengan terpenuhinya ingin, lantas kita bahagia? Tanyakan pada keinginan sendiri, maka jawabannya adalah 'ya'. Tanyakan pada keinginan yang telah lewat, jawabannya akan lain. Keinginan mengalir dari satu objek menuju objek lainnya. Boleh jadi keinginan itu ngetem seperti angkot, menanti terpenuhi, tapi toh segera setelah itu dia akan jalan menuju keinginan lainnya, terus begitu hingga entah kapan.

Bila kau terus pandangi langit tinggi di angkasa

Takkan ada habisnya segala hasrat di dunia

Begitu kata Ahmad Dhani.

Ki Ageng Suryomentaram mengatakan dalam 'Wejangan Pokok Ilmu Bahagia'-nya, bahwa keinginan yang tercapai akan mendatangkan rasa bahagia, namun dengan segera keinginan ini akan mulur alias memanjang atau meningkat. Sudah punya Honda Jazz, ingin BMW. Berhasil beli BMW, ingin Bentley. Bosan mobil, ingin beli kapal pesiar, dan seterusnya. Maka, rasa senang selalu dibarengi dengan susah yang disebabkan tidak tercapainya keinginan. Manusia itu sebentar senang, sebentar susah.

Kemudian, Ki Ageng Suryomentaram juga menambahkan bahwa rasa senang adalah sama. Orang kaya senang bisa mendirikan pabrik, orang miskin senang bisa mendapatkan sesuap nasi. Sejatinya, rasa senang itu sama. Seorang guru ngaji senang bisa mengajari muridnya mengaji, seorang pencopet senang bisa mencopet dompet orang. Dua-duanya sama-sama senang. Rasa senang itu sama dan setara bagi siapapun. "Jika kita memahami bahwa manusia itu sebentar senang, sebentar susah, dan rasa senang itu sama bagi setiap orang, maka bebaslah kita dari neraka iri hati dan kesombongan," demikian disampaikan Ki Ageng Suryomentaram.

Dua tahun yang lalu, saya membaca Caping (Catatan Pinggir)-nya Goenawan Mohammad di majalah Tempo. Ia mengomentari soal kepanikan para pemilik saham dengan membayangkan Ki Ageng Suryomentaram. "Mungkin," tulis GM, "Inilah yang akan kita dengar dari Ki Ageng Suryomentaram: Yang menangis adalah yang berpunya. Yang berpunya adalah yang kehilangan. Yang kehilangan adalah mereka yang ingin.”

Itulah tulisan yang menginspirasi saya untuk membuat notes ini. Sempat tergugah hati untuk mengikuti jejak Ki Ageng Suryomentaram, untuk hidup bersahaja, mengatasi segala rasa ingin, seperti para sufi, mungkin. Tapi ternyata tak semudah itu. Saya masih tetap mengizinkan diri saya untuk membeli camilan ber-MSG. Saya masih tetap membeli Tutti Frutti Frozen Yoghurt ketika teman-teman saya membelinya. Saya tetap ngikut ketika diajak nonton, menempatkan ingin diatas kepentingan finansial yang lebih penting seperti menabung, misalnya. Dan dengan mudah saya bisa membenarkan tindakan saya dengan berkata 'pergaulan memang butuh biaya'.

Akankah saya jadi seperti Buddha yang terbebas dari rasa ingin? Saya tidak tahu, dan saya tidak tahu apakah itu baik untuk saya. Yang pasti kini saya tahu bahwa saya harus lebih banyak memberi ketimbang menerima. Mengamini Freud, setiap dorongan psyche sebaiknya saya sublimasikan, lewat karya, lewat tulisan, dan lewat perbuatan. Sublimasikan, supaya tidak neurosis, dan tidak jadi keinginan rendah semata, namun menjadi nilai. Nilai yang bisa saya, atau orang lain, tengok sewaktu-waktu, untuk mengingatkan diri tentang bagaimana bersikap di hadapan rasa ingin.

...Ah, kanvas habis.

15 November 2010

Immaturity and Underachievement

To be more exact: MY Immaturity and underachievement. Belakangan gw merasa gagal. Gagal dalam banyak hal. Mulai kuliah, kemahasiswaan, sosial, dan lain-lain. Lukisan jelek, sawah gagal, menarik diri dari pergaulan, dan gak punya pencapaian apapun.

The worst thing is: gw tau penyebab kegagalan gw tidak lain dan tidak bukan adalah diri gw sendiri. Gw gak serius dalam ngerjain sesuatu, dan itu salah. Gak ada alasan, pokoknya salah. Gw udah kepala dua, dan gw harus dewasa. Sucks, yes. That’s life.

I can argue that “I still haven’t find myself, so I can’t give my best at my paintings”. Tapi jelas itu bukan alasan yang bisa diterima, bahkan meskipun itu benar-benar yang gw rasain. Tunggu, apa benar itu yang gw rasain? Atau itu cuma sekedar alasan untuk menutupi kemalasan gw? Atau dua-duanya benar? Gw gak yakin sama diri gw sendiri. Tapi kayaknya sih yang kedua. Hehehe... eh, anjing, malah ketawa. Goblok.

Soal sawah, well... for some reason, I prefer to write it here rather than saying it directly with the voice from my goddamn mouth. Gw takut, dan itu membuktikan bahwa gw salah. Fuck. Well, I’ll be frank: I never really wanted to do it. I thought I wanted it, but I realized that actually I didn’t. Makannya gw gak pernah benar-benar serius, bahkan gw kehilangan makna apa yang gw lakuin. Sorry guys, but at least I want you to know the truth, meskipun gw nyampeinnya dengan cara se-taik ini.

Menarik diri dari pergaulan? Well... sort of. Sejak lulus TPB gw mulai jadi penyendiri, gak produktif(as if gw pernah produktif), dan melarikan diri ke depan layar, mostly lurking in teh internet, or playing video games. Dan mungkin, disadari atau nggak, gw beli PSP juga buat itu, terlepas dari gw emang pengen punya PSP dari dulu.

Eniwei, ada alasan gw gak deket dengan orang-orang yang dulu deket sama gw. Gw terlalu pengecut untuk minta maaf, dan memilih untuk cabut dari mereka sambil mencari pembenaran atas tindakan gw, sambil menguatkan diri sendiri bahwa gw bisa hidup tanpa mereka, dan sambil bersikap masa bodoh dan menganggap apa yang terjadi terjadilah, gw gak bisa menarik perkataan gw, dan inilah harga yang harus gw bayar. Dan gw bersedia membayarnya(at least until now). Lagipula, kalo dipikir-pikir lagi, alasan gw jadi temen mereka juga punya muatan politis: gw pengen deket sama gebetan gw. And it ends up she(and they) hates me and see me as a pathetic fucking douchebag. I’m totally done for.

Pencapaian... Hmph. Gw gak punya pencapaian apapun yang cukup berharga untuk dibanggakan. Gw nyaris gak pernah serius dalam ngerjain sesuatu dan sering berhenti di tengah-tengah. Kenapa? I simply lost my passion, that’s all. Kenapa gw bisa segampang itu menyerah? Nah, itu yang mau gw bahas di paragraf berikut...

It’s called underachievement. Sebuah istilah untuk menjelaskan ketidakmampuan atau kegagalan untuk menampilkan tingkah laku atau prestasi sesuai dengan usia atau bakat yang dimilikinya. Dengan kata lain, potensi yang tidak terpenuhi.

Read this if you want: http://episentrum.com/artikel-psikologi/underachievement/

Setelah baca artikel itu, gw semakin yakin bahwa gw adalah seorang underachiever. Gw yakin punya kemampuan di atas rata-rata, tapi pencapaian gw gak menunjukkan itu. Malah kenyataannya gw gak punya pencapaian apapun yang cukup berarti. Oke, sebagian mungnkin bisa bilang masuk ITB itu pencapaian yang cukup bagus, tapi somehow gw gak ngerasain itu lagi. Gw gak lagi bangga sebagai anak ITB maupun anak SR. Gw gak bangga sama diri gw sendiri.

Sayang, artikel itu berfokus menjelaskan underachievement pada anak-anak. Dan gw sudah kepala dua I’m kinda pissed off, actually. Gw udah terlalu tua untuk melakukan kesalahan. Gw udah terlalu tua untuk bersikap kayak kekanak-kanakan.

Kalo boleh jujur(and being a pathetic fucktard), gw pengen menyalahkan masa lalu gw... atau mungkin tepatnya, orang tua gw. Gw gak dibesarkan dengan cara yang benar! Gw terlalu dimanja, terlalu dimudahkan, dan gak dilatih untuk bisa ngambil keputusan sendiri. Gw biasa mendapatkan segala yang gw inginkan, dan gw gak tau kalo itu buruk buat perkembangan kepribadian gw. Well, gimana gw bisa tau? Gw cuma anak kecil. Walhasil, gw tumbuh sebagai orang dengan kepercayaan diri yang rendah atau mudah jatuh. Gw butuh diyakinkan bahwa tindakan gw akan diapresiasi, dan ketika gw kehilangan keyakinan itu, hilanglah semangat gw dan gw berhenti. Tolol? Ya. Sangat.

Oh, betapa gw ingin me-restart kehidupan gw. Betapa gw ingin jadi anak-anak lagi dan tumbuh jadi orang yang bertanggungjawab, berprestasi, dan lain-lain. Okay, another stupid thing to say.

Well, mau jungkirbalik sampai SBY diganti juga, gak ada yang bisa gw lakukan pada masa lalu gw. jungkirbalik sampai presiden diganti sembilan kali juga masih gak bisa. So, it’s actually pointless to ponder upon such thing. Gak ada gunanya gw menyalahkan masa lalu gw. Gak ada gunanya gw berkeinginan untuk mengubah masa lalu gw.



....



....



....



....Fuck you, life. Fuck you.





Huff... lega rasanya udah ngeluarin uneg-uneg dengan cara se-taik ini. I fell better, srsly.

08 September 2010

Long Time No Blog

Hi there!

Udah lama banget euy gw gak ngeblog. Udah hampir setahun men. Gilak. Gak berasa.

Eniwei, uh...

....

....

...Gw gak tau mau nulis apa :p

Banyak yang terjadi selama gw gak ngeblog. Gw keasikan ngupdate status fesbuk. Segala pikiran gw tuangin di situ. Jadilah blog gw yang ini terbengkalai. Tapi sekarang, somehow, gw jadi pengen nulis di sini lagi. Hehehe...

Ah, sekedar info, gw pindah studio. Jadi, sekarang gw bukan anak Seni Patung lagi, tapi Seni Lukis. Whoo-yeah! Akhirnyaaa.... Meskipun gw jadi turun angkatan, tapi gak masalah. Anak-anak 2009 cantik-cantik baik-baik dan menyenangkan :)

Well, segitu aja dulu deh. Sekarang gw mau cabut ke kampus. Mau ngelukis. Hehehe...

Met lebaran! :D

02 Desember 2009

Lapor!

Hey-ho! I'm back!

Apa kabar, my fuckin' readers?

Well, udah hampir sebulan gak posting. Sebenernnya baaaanyaaaaaaakk banget yang mau gw ceritain. Sebanyak buih di lautan...(Lebay #1) Sebanyak bintang di angkasa...(Lebay#2) Se-banyak(?) uang di dompet gw.

Tapi, berhubung kebanyakan yang gw ceritain udah basi kalo gw ceritain sekarang, gw gak akan cerita panjang kali lebar kali tinggi bagi dua. Gw akan cerita tentang beberapa hal yang terjadi baru-baru ini. Nggak, gak termasuk gw telat sholat Ied dan pas dateng-dateng ternyata udah khotbah. Gw gak akan ceritain itu. Itu rahasia. Aib. Kamu nggak boleh tahu. Juga tentang gw yang buka facebook teman-teman cewek gw(yang cantik) cuma buat ngesave fotonya serta senyam-senyum sendiri kalo ngelat relationship stausnya single. Gw gak akan ceritain itu. Pokoknya gak mau.

*ahem*

Okeh, kita mulai dari laporan acara Jazz Goes To Campus.

Jadi, hari Minggu kemaren BEM FEUI berhasil menyelenggarakan JGTC yang ke-32. Gw ke sana naik motor dari Bekasi, membelah Jakarta, melewati Pancoran, Pasar Minggu, dan Lenteng Agung. Melewati tiga halaman peta Jakarta dengan skala 1:12500. Gw ke sana.... sendirian.

.....

....ya....

....sendirian.....

....

....

KASIAN BANGET GAK SIH GUUWWEEEEE???
!!!!111 *emo mode: ON*

*ahem*

Untungnya di sana gw ketemu dengan beberapa orang yang gw kenal. Gw jadi bisa nikmatin acara bareng mereka, meskipun ujung-ujungnya misah dan gw sendirian lagi... Hiks....

Eniwei, the show was... TEH AWESOMENESS!!!!!111

Ini pertama kalinya gw dateng ke JGTC, dan ternyata acaranya asik. Gak kayak pensi yang penontonnya alay sering rusuh, acara jazz mah penontonnya kalem. Kita lebih fokus nikmatin performance-nya dibanding terbawa suasananya.

However, ada beberapa masalah yang bikin acara ini jadi kurang asik.

Pertama, gw dateng dan pulang sendirian, -->kasian banget.

Kedua, HUJAN. Efeknya: gw nonton payung, bukan nonton artisnya. Udah gitu gw gak bawa payung. Jadilah gw seperti anak anjing yang kehujanan, mencari makanan di tempat sampah. Oh, nggak. Lebay. Maksud gw, jadilah gw kebasahan.

Ketiga, ini gak bisa disebut kekurangan, tapi penontonnya rame banget euy! Gw jadi gak bisa ke depan buat ngeliat Ecoutez, Soulvibe, dan Maliq dari dekat. Maaannn... They're the stars dan gw cuma bisa menikmati mereka dari jauh! Sendirian lagi!

Tapi, semua itu gak sebanding dengan performance superkeren dari artis yang emang udah gw tunggu-tunggu penampilannya. Mereka duo. Gitar dan bass. Tanpa drum, tanpa keyboard, hanya gitar merangkap vokal, bass, serta ditambah additional player yang memainkan... pianika(kalo kamu berpikir pianika itu alat musiknya anak SD dan SMP yang notabene cupu, kamu salah besar!). Mereka pria dan wanita. Merka sebentar lagi menikah. Mereka selalu bercerita tentang lagu yang akan mereka mainkan sebelum mereka memainkannya. Mereka keren, mereka lucu, mereka sangat berskill, mereka luar biasa. Mereka adalah.... Endah n Rhesa!

Gw belum lama denger mereka. Kesan pertama: Hmm... Pretty cool. Ternyata, oh ternyata, mereka jauh lebih keren dari yang gw dengar. Performance mereka sangat menghibur. Gak nyesel deh gw gak nonton Maliq demi nonton Endah n Rhesa karena mereka main di saat yang sama di dua panggung berbeda(FYI, ada tiga panggung di JGTC).

Sebenernya, setelah Endah n Rhesa selesai manggung, Maliq masih main. Tapi penonton membludak dan yang keliatan cuma lampu panggungnya aja. Jadi, gw memutuskan untuk menjadikan Endah n Rhesa sebagai performer penutup. Klimaks, bung. Sangat-sangat klimaks.


They're AWESOME

p.s: foto diambil dari sini (bukan dari acara JGTC soalnya foto-fotonya gak ada di hape gw)

Alrite, selanjutnya acara kopdar rumahblogger.

Bertempat di PIM, jam 12 siang. Yang dateng: Gw, Bena, Ridu, Paams, Etta, Henli, Ninit, Azrina, Arif, Bimo, dan Irfan.

Kami diinterograsi diwawancarai oleh majalah Hai, buat edisi tahunan. Ada yang udah beli majalahnya? Gw belum. Hehehe...

Gw ketutupan benda besar...

Eniwei, setelah wawancara selesai, Gw, Bena, Ridu, Ninit, Azrina, Arif, Bimo, dan Irfan cabut ke Point Square buat karaokean di Inul Vista. Oh, how I love karaokean.

Beberapa kejadian FAIL saat karaokean

1) lagi milih lagu, entah kenapa di layar komputernya malah muncul layar CHAT, seolah-olah gw pengen chatting dengan penghuni ruangan lain di Inul Vista. WTF?!

2) pas lagu L'Arc~en~Ciel - Ready, Steady, Go! ternyata teksnya pake huruf hiragana. WTF?!(lagi)

3) mas-masnya dateng buat ngasih tau waktunya tinggal 10 menit lagi... pas Bena lagi nyanyi ST12 - Cari Pacar Lagi. FAIL.

Oh well, that was fun. We should do it again someday.


Okeh, sekian untuk laporan acaranya. Sekarang kita masuk ke segmen Serba-Serbi Harunsaurus.

1) Kamar gw berantakan. Apa? Udah tau? Oke....

2) Belakangan ini gw jadi suka buka UrbanDictionary.com. Itu situs kamus istilah dan slang word dalam bahasa Inggris. Banyak definisi-definisi lucu dari kata-kata yang biasa, seperti: woman, microsoft, ipod, porn, dsb.

3) Selain Urban Dictionary, ada juga situs gak waras lainnya bernama Encyclopedia Dramatica. Semacam wikipedia, tapi jangan harap kamu menemukan sesuatu yang benar di sini. Itu situs tempat tanpa moral, etika, dan tabu. Somehow, mereka bisa membuat itu menjadi sangat-sangat lucu.

4) Selain Encyclopedia Dramatica, ada lagi dunia gelap internet, yaitu situs tempat orang-orang sinting bernama 4chan. Kalau masih mau waras, jangan main ke sana, apalagi lurking di subforum /b/ (random).

5) Untuk kesekian kalinya, ban gw bocor lagi. Asuuuu....

6) Gw ketularan teman-teman gw(terutama cowok) dan jadi suka SNSD. Mereka cantik, pinter nyanyi, pinter nari, badan bagus. Satu-satunya kekurangan mereka adalah mereka gak mau sama gw.

7) Gw lurking di deviantart cuma buat nyari foto-fotonya Hayley Williams(itu lho, vokalisnya Paramore). My God, she's hot! Adorable by men and women!

8) Gara-gara minjemin kamera ke temen gw buat dia bikin tugas, gw jadi gak bawa kamera pas hunting foto bareng Polaris.

9) Untungnya Nanda berbaik hati men-share kameranya dengan gw(makenya gantian gitu).

10) Selain pake kameranya Nanda, gw juga foto-foto pake kamera hape. Hehehe...

11) Setengah jam yang lalu, gw ngirim sms ke nyokap, malah dapet balesan dari nomor gak dikenal: "woy sJaK kPaNddh QuH kWiN mAa bPak u ???" --> EPIC FAIL

12) Ngomong-ngomong, #11 itu gw jadiin status facebook.

13) Gw nemu ini di Jakarta. Tepatnya di depan stasiun Cikini, dekat Megaria:

Pembantu = Ban mobil


14) Motretin orang tidur itu menyenangkan. Terutama kalo objek foto sedang mengeluarkan ekspresi tak senonoh seperti foto di bawah ini:

Entah orang ini lagi mimpi apa...

15) Inilah jadinya saat toko topeng serem berubah jadi toko mainan... tanpa merubah namanya:

NAME FAIL


16) Udah ah, segitu dulu.

17) Udaaaaaahhhh...!!!

18) See you in my next postingan!

08 November 2009

Sombong

sombong som.bong
a menghargai diri secara berlebihan; congkak; pongah.

Itu kata kamus. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kamu punya tidak di rumah? Nggak? Sama.

Tapi itu kan kata kamus, dan saya tidak harus selalu dengar kamus. Bukan hanya kamus tidak bisa ngomong, tapi juga memangnya kamus itu siapa? Dosen bukan, pacar bukan, dokter juga bukan. Kamus itu hanya saya gunakan kalau ingin mencari suatu kata. Bisa juga digunakan untuk menggeplak kepalamu yang semoga ada isinya itu.

Jadi, apakah saya sombong?

Tidak!

Sungguh?

Sungguh! Percayalah!

Tidak bohong?

Tidak! Tidakbohong!

(...dialog ini dapat dilanjutkan kapan-kapan, sesuai dengan dialog seperti yang sering kita dengar di telenovela.)

Tapi, oh, tetapi, saya mau pamer beberapa hasil kerjaan tangan saya. Tangan yang alhamdulillah diberi keterampilan untuk menggambar, meskipun teman-teman saya banyak yang lebih jago menggambar dibanding saya. Tapi, meskipun begitu, kata orang(yang kurang pandai menggambar) gambar saya bagus.... Tapi saya tidak sombong. Beneran deh.

Saya cuma mau pamer, agar supaya situ bisa kasih komen, bisa mengagumi, atau minimal bisa tahu kalau saya itu bisa menggambar... dan saya tidak sombong. Yaaa pokoknya supaya situ bisa mengapresiasi lah.

apresiasi ap.re.si.a.si
[n] (1) kesadaran thd nilai seni dan budaya; (2) penilaian (penghargaan) thd sesuatu; (3) kenaikan nilai barang krn harga pasarnya naik atau permintaan akan barang itu bertambah.

Itu saya kasih definisi kata apresiasi, kopi-paste(bukan kopi susu) lagi-lagi dari si kamus. Tentunya saya tidak perlu kasih tahu definisi nomor berapa yang perlu kamu pakai bukan? Dan tentu saja saya juga tidak perlu kasih tahu sumedang.

Ah, saya jadi lupa, itu saya mau apa tadi?

Ah, iya, pamer!

Pamer gambar!

Sombong?

Tidak! Tidak sombong!



Nih, ah:


Komposisi Benda #1
(pensil di atas kertas)


Komposisi Benda #2
(pensil di atas kertas)


Gita
(tinta cina di atas kertas)


Anggur #1
(cat minyak di atas kanvas 80 x 70 cm)


Anggur #2
(cat minyak di atas kanvas, 70 x 70 cm)



Bawang
(cat minyak di atas kanvas, 60 x 80 cm)



Vanni
(cat minyak di atas kanvas, 60 x 80 cm)


Kamu boleh komentar kalau kamu mau. Tidak komentar juga tidak apa-apa. Yang penting kamu sudah lihat, sudah mengapresiasi meski hanya dalam hati, dan kamu tahu kalau saya bisa menggambar dan melukis... dan saya tidak sombong.